Bayi yang lahir dengan down syndrome mempunyai risiko penyakit jantung bawaan (PJB) yang cukup besar, yakni 40 persen. Orang tua yang memiliki bayi down syndrome sangat disarankan berkonsultasi dengan dokter jantung anak guna memberi penanganan lanjutan.

“Memang pada syndrome down, sudah tahu sejak bayi itu harus dirujuk minta untuk ke dokter jantung anak. Tapi tak semua PJB (Penyakit Jantung Bawaan-red) berat. Setelah itu, kalau tidak dioperasi langsung, ya ‘dikasih’ ke spesialis anak atau dokter umum,” kata kardiolog anak dr Winda Azwani, SpA(K) pada Selasa (17/7/2019).

Baca Juga: Inilah Penjelasan Dari Dokter Tentang Ikan Asin

Down syndrome merupakan sindrom langka yang cukup banyak ditemui di Indonesia. Sindrom kelainan kromosom trisomi 21 ini menyebabkan beberapa masalah perkembangan dan pertumbuhan anak, termasuk berisiko terkena penyakit jantung bawaan. Menurut Winda, dari 12 ranjang di RSIA Harapan Kita, delapan di antaranya adalah pasien PJB.

Selain bayi dengan kondisi down syndrome, bayi yang lahir prematur dan sindrom-sindrom lain juga berisiko terkena PJB. Di Indonesia, sekitar 50 ribu bayi lahir dengan PJB. Sayangnya, fasilitas penanganan operasi jantung anak baru tersedia di sejumlah kota besar saja.

Jakarta sebagai pusat rujukan dari berbagai daerah belum mampu menangani keseluruhan pasien PJB. Data yang dihimpun RSIA Harapan Kita menujukkan bahwa ada 1.100 antrean operasi jantung anak dalam setahun. Hal ini juga menyangkut minimnya kardiolog anak serta teknologi yang belum memadai di daerah.

Baca Juga: Pertolongan Pertama Saat di Gigit Anjing

source : health.detik.com

Write a comment:

*

Your email address will not be published.

© 2019 - RS Karanggede support by PT. PMI

Telepon Kami       (029) 8610600